Laman

07 September 2012

Perjuangan untuk menikmati visualisasi novel "CINTA SUCI ZAHRANA"

Alhamdulillah, puji syukur saya panjatkan ke hadirat Allah pemilik segala rasa dalam diri hambaNya. Akhirnya malam ini saya di izinkan untuk memenuhi hasrat saya menonton "Cinta Suci Zahrana".
*maaf klo pembukaannya sedikit lebih formal dari biasa.
Film Cinta Suci Zahra di putar perdana serentak di seeluruh bioskop di indonesia bertepatan dengan hari raya idul fitri. Saya yang sudah pernah membaca ceritanya lewat novel Kang Abik ketika itu langsung penasaran dgn visualisasi yang di buat oleh Sinemart. Sejak pertama diputar hingga hari ini saya baru sempat menonton film ini, karena pada saat pemutaran perdananya hingga hampir ditutup saya sedang mudik. Di website resmi www.21cineplex.com untuk jakarta hanya tinggal Blok M Square saja yang masih memutar film ini. Dengan rasa penasaran yang mendalam, saya bulatkan tekat untuk nonton malam ini (takut besok sudah tidak di putar)
Pukul 20.45 penonton teater sudah berhamburan keluar, saya dapat giliran masuk pukul 21.25 tapi sudah di perbolehkan masuk saat pukul 21.00. Setibanya di dalam teater saya. Merasa ada yg aneh, "kok penontonnya hanya 5 orang?" (termasuk saya). Mungkin yang lain belum datang (pikir saya), meskipun pada akhirnya penonton hanya 7 orang, itupun prianya hanya tiga orang, sedangkan ke 4 penonton wanitanya berjilbab semua. Sambil menunggu pemutaran film utamanya. kami di putarkan film looney toons, film yang dulu pernah saya favoritkan.
Saat awal film dimulai saya langsung merasa senang. Bagaimana tidak, ternyata setting lokasi memang di Semarang, membuat saya yang baru balik dari mudik ingin pulang kampung lagi. Apalagi yang memerankan Zahrana si cantik Meida Sefira. Menurut saya tata busana dan make up yang di pakai Zahrana pada film ini sangat pas. Bahkan mampu mengingatkan kepada beberapa teman saya yang menjadi dosen di Semarang, gaya berbusananya sama. Meskipun kisah film ini di ambil dari novel pembangun jiwa, tetapi terdapat selingan-selingan komedi yang cukup mampu membuat saya terpingkal-pingkal. Apalagi menggunakan aktor-aktor lokal Jawa Tengah yang lucu-lucu.
Pada garis besarnya memang ada beberapa rasa yang saya dapat dari membaca novel, tidak dapat di wakili dengan penggambaran visualisasi dari film tersebut. Misalnya, rasa benci kepada Pak Karman yang dalam novel di jelaskan memang dia yang membunuh Rahmat dengan menabrakannya ke kereta. Sementara dalam film ini pak Karman terkesan tidak sejahat di dalam novel. Tapi tata musik sudah cukup mampu memberikan rasa yang tersendiri yang juga tidak mampu diciptakan dalam tulisan novel. Sekali lagi saya angkat jempol untuk mbak Melly guslow.
Satu di antara apa yang saya dapat dari cerita ini adalah, terkadang kita harus berhenti sejenak dari segala kegiatan kita memburu kehausan kita pada sesuatu kebutuhan (ilmu, nafkah, jodoh, dll). Menggantinya dengan menikmati karya satra untuk memanjakan jiwa dan memperkaya rasa.
Terima kasih buat kang abik. Semoga karya-karyamu mampu membangun jiwa kami.




Tidak ada komentar: